May 13, 2014

Moi Pumping Story

Karena bos lagi cuti (bihihihik) bolehlah nyuri2 waktu kite buat cerita selanjutnya tentang soal persusuan ini.

Eh, sebelumnya bisa baca-baca soal cerita menyusui saya disini.

Sekarang sudah tiga bulan jalan saya memerah ASI untuk Zafran.
Jadi awal perkenalan saya dengan pompa ASI waktu sahabat saya melahirkan. Kebetulan anaknya kuning sehingga harus disinar, dan waktu itu untuk mengoptimalkan penyinaran, pemberian ASI dilakukan dengan ASIP (ASI Perahan) yang disendoki oleh suster di RS. Waktu itu baru saya mengenal merk Medela, karena teman saya memakai pompa Medela Harmony (bukan iklan ini yaaa..)

Ketika hamil, sebagai ibu yang kompetitif dan menginginkan ASI ekslusif untuk anaknya selama 6 bulan (dan kalau bisa 2 tahun, amin..), saya googling tentang kiat-kiat pemberian ASI untuk ibu bekerja. Ternyata banyak ibu bekerja yang sukses untuk memberikan ASI eksklusif untuk anaknya dengan cara memerah ASI di kantor dan manajemen ASIP yang baik. Waktu itu saya sampai tercengang melihat ibu-ibu dengan stock ASIP yang melimpah, bahkan waktu itu sempat melongo membaca cerita tentang istri Irfan Hakim yang hendak berangkat umroh dan bertekad meninggalkan stock 600 botol ASIP untuk anak kembarnya! Huwoooh, makin optimislah saya untuk semangat memompa di kantor.

Tapi saya juga membaca cerita tentang ibu-ibu yang pasca melahirkan ASInya tidak keluar, atau keluarnya sedikit sekali sehingga harus disuplemen oleh sufor. Karena itu suami dan saya memutuskan tidak akan membeli perlengkapan untuk memerah ASI terlebih dahulu, menunggu kondisi produksi ASI saya setelah melahirkan (produksiii.. serasa pabrik ^^). Sahabat saya yang saya sebut diatas menawarkan meminjamkan pompa Medelanya karena ybs IRT dan tidak menggunakannya lagi untuk menyetok ASIP.

Ketika Zafran lahir kurang lebih tiga minggu lebih cepat dari perkiraan, untungnya sehari sebelumnya saya sempat mencuci steril pompa ASI yang dipinjamkan teman saya tersebut. Karena ternyata saya terkena pre-eklampsia dan harus masuk ICU pasca melahirkan sehingga tidak bisa langsung menyusui Zafran. Hari itu suami saya dan seorang bidan susah payah memompa kedua PD saya, dengan pompa RS dan pompa hasil pinjaman teman saya. Hasil pompaan pertama.... setengah sendok teh saja, diberikan kepada Zafran yang menurut suami langsung minum dengan lahap :)

Ketika Zafran harus difototerapi karena bilirubinnya tinggi, saya memompa ASI terus-terusan walau awalnya hasilnya ngga keluar. Ketika hasil perahan mencapai 40 ml untuk PD kiri dan kanan, rasanya ingin menangis bahagia. Hehehehe.. Kegiatan perah memerah ini terus berlanjut hingga saya pulang ke RS dan sudah menyusui Zafran, karena katanya untuk ibu bekerja sebaiknya menyiapkan stock ASIP sebanyak dan sedini mungkin sebelum kembali masuk bekerja.

Zafran 1 bulan... kena bingung puting karena saya kasih ASIP menggunakan dot :D. Mulailah episode sebagai ibu e-ping (exclusively pumping) dimulai. Banyak alasan kenapa akhirnya saya memilih e-ping ini. Yang utama sih, karena asumsi saya akan menghabiskan kurang lebih 12 jam di kantor, kalau Zaf tidak mau menyusui dari botol semakin repot saja neneknya yang dititipi. Ketika menjadi e-ping, di awal-awal episode ini, saya emosional sekali. Sering saya berpikir disaat ibu lain bisa membangun bonding dengan bayinya, saya membangun bonding dengan breastpump. Disaat Zafran tertawa dan bermain, saya malah sibuk di pojokan dan memerah. Disaat malam hari ibu lain bisa tidur sambil menyusui, saya harus bangun dan berjaga untuk mengambilkan botol Zafran, menghangatkan, memberikannya, dan juga memerah lagi untuk mempertahankan produksi. Beratnya jangan ditanya, pingin nangis rasanya setiap saat.

Lama kelamaan, kondisi makin membaik. Saya mulai bisa mengelola manajemen waktu memerah sehingga masih bisa mengasuh dan bermain dengan Zafran. Malam hari pun semakin mudah karena Zafran bangun tidak sesering ketika newborn dulu. Kondisi fisik dan emosi saya juga semakin membaik.

Di kantor, saya mencoba memerah ASI tiga jam sekali, jam 9 pagi, jam 12 siang dan jam 3 sore. Kalau lembur saya tambah satu sesi jam 6 sore. Leganya ketika hari pertama masuk kantor, bapak bos tampaknya sudah well-educated tentang ASI ekslusif dan perah memerah ASI, sehingga ijin memerah selama setengah jam untuk sekali perah pun diberikan. Memang memerah ASI di kantor membutuhkan kedisiplinan tinggi, banyak halangannya. Ada klien datang. Deadline laporan. Rapat. OTS keluar kantor. Apapun itu tetap berusaha memerah. Banyak temen-temen yang kepo pada awalnya sekarang sudah maklum dan malah menyemangati. 

Dukungan terbesar datang dari suami dan keluarga. Senang rasanya kalau mama menyemangati saya untuk terus memerah dan berkata, "Santai aja, biar mama yang megang Zaf..". Suami yang tiap weekend hampir full 24 jam mengasuh Zafran sementara saya memerah 2 jam sekali. Dukungan dari suami dan mama saya rasanya sudah cukup untuk menyemangati saya terus memerah. Bahkan papa saya yang dulu hendak membelikan sufor untuk Zafran sekarang bangga cucunya bisa gendut hanya dengan minum ASI.
Target saya nggak muluk-muluk, bisa ASI ekslusif untuk 6 bulan. Amin. :) 

Tantangan lainnya? Mati lampu! Stres sekali kemarin waktu PLN mengumumkan akan mati lampu dari jam 8 pagi hingga 5 sore, apa kabar ASIP saya didalam freezer? Untuk freezer kulkas saya sudah menggunakan kulkas dengan cool pack yang katanya tahan 10 jam tidak cair, bagaimana dengan deep freezer saya? Akhirnya minta tolong OB kantor untuk membelikan lima gelondongan es batu, selain itu juga saya buat es batu di dalam kantung plastik setengah kilo. Untungnya mati lampu 9 jam, aman, ASIP saya tidak ada yang mencair.

Pertanyaan dari orang-orang? Oh tentu banyaaaak... :D Dari mulai bertanya kenapa saya tidak menyusui langsung, kenapa Zafran diberi dot, apakah ASI yang diberikan tidak basi, apa nggak capek terus menerus memerah. Ya dijawab aja sebisanya. Biasanya mama dan suami ikut menjawab. Aduh pokoknya, two best person in my life deh mereka.. Cinta! :-* 

Perjalanan masih panjang. Masih ada 3 bulan lagi hingga Zafran selesai ASI ekslusif. Mudah-mudahan bisa terus istiqomah memerah ya.. :)

O ya, saya mau sharing peralatan memerah untuk mamah perah ya, baik eping maupun bukan, tapi di postingan selanjutnya saja yaa Bye bye.. :D

2 comments:

  1. Iii dela, menyusui malem2 ada g enaknya lho... kalo kata orang-orang gampang tinggal ngeluarin nenen langsung jleb, iya seh tapi bangun2 punggung n leher sakit gara2 posisi kita yang otomatis jd miring sepanjang malam, dan sakit punggu dan leher ini berkepanjangan. Blm coba pijet2 lg se.. tapi mungkin jg itu gw doang, g tau orang2 bagemana ya. Haha numpang curhatlaa (g mau dibilang ngeluh). Dan kalo udah disedot bayinya langsung jadi susah mompa jg, krn dikuras habis (banyu seh gitu entah yang lain). Istiqomaaah...amiiin! *sampe skrg blm sewa deep feeezer, g pede

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh begitu yaaa.. maklum gw ngga mengalami fase menyusui sampai tiduran, jaman Zaf masih bisa nyusu langsung, kalo malem selalu nyusuin sambil duduk gw.. Gw kira kalo malem baby kebangun mau mimik, kita tinggal buka warung terus bobok nyenyak lagi, hahahhaa
      duh, ternyata plus minus ya, gw juga ngga mau ngeluh, tapi manusiawi lah kalo kita butuh dikit2 curhat, hehehehe..
      Sewa aja ve.. jaga2.. biar semangat ngisinya.. eh, dulu jg waktu Zaf abis nyusu dikit keluar mompanya, kayaknya emang terkuras habis gitu, hihihihi..

      Delete