May 16, 2013

Best Friend - Even When Things Get Messy

Terinspirasi dari kicauan salah satu teman di twitter soal teman sejati, saya jadi pingin ngomongin soal pertemanan. Dari segi ceteknya aja sih, just my two cents.

Seperti apakah si teman sejati itu? Apakah ada di dunia ini yang namanya teman sejati? Kriterianya seperti apa?

Pertama, si pertemanan itu menurut saya hubungan yang rada tricky lho. Karena nggak pake komitmen diantara keduanya. Bisa jadi saya menganggap dia teman sejati, teman yang paling baik, tapi bisa jadi lho perasaan saya nggak berbalas (duh kasian ya). Ya kan? Bisa jadi dia cuma menganggap kita sebagai teman biasa saja (lah, postingan ini kok mulai berbau galau ya?)

Terus, inget nggak, kalo "people who you love most is probably the one who hurts you"? Ini nggak berlaku buat temen aja sih, akan tetapi sangat bisa terjadi dalam pertemanan, entah si teman itu sengaja ataupun tidak.

Sesungguhnya kalau buat saya, sedikit susah menggolongkan si teman sejati, karena saya adalah tipe orang yang punya banyak teman, tapi rada pilih-pilih soal urusan sahabat. Walaupun ada yang bilang "kalo punya temen itu jangan pilih-pilih" tapi asa udah nggak berlaku deh di jaman sekarang. Punya temen ya harus milih dong, yang bisa membawa kita ke kebenaran bukan kesesatan. Halah. Tapi kurang lebih gitu kan ya? Mungkin prinsip ini nggak berlaku buat semua orang, tapi kalau saya sih menganut prinsip "abaikan saja". Jadi nggak berteman juga bukan berarti memusuhi. Mungkin lebih menganggap nggak ada ya, haha..

Kembali ke teman sejati, I've been meeting a lot of wonderful friends. Yang temenan sejak umur lima tahun sampai sekarang? Ada. Yang ngejagain selama empat tahun kuliah di kampung orang? Ada banget. Temenan karib sama satu kelas sekaligus? Talk to my accelerated classmate, they are awesome. I have no idea we could still be connected with people even when we don't need to maintain the relationship. The chemistry is always there.

Makin dewasa (ceile.. tua kali ya..) pandangan terhadap seorang teman juga berubah. Seleksi alam itu does exist. Survival of the fittest. Secara natural, teman-teman yang ada pun berguguran satu demi satu. I don't know how many times I turned my back to the past and regretted all the people who've been there, in my life, but now I have no idea where they are, or what they do. Rasanya pingin punya waktu 48 jam sehari, 14 hari seminggu, sehingga bisa tetep taking care our relationship, bisa nge-bbm-in semua temen smp, temen hang out dan belajar bareng (pencitraan banget nggak sih) waktu kuliah, teman-teman yang sekarang literally tersebar di seluruh Nusantara Raya ini. Tapi ya, life happens. Prioritas berubah. Ada teman baru yang datang. Lingkungan baru yang menyenangkan. Dan menantang. Mungkin prinsip "witing tresno jalaran suko kulino" ini beneran ada ya. Berlaku buat si teman juga. Positifnya? Si teman-teman yang tertinggal itu biasanya yang paling oke. Yang paling klop. The one who lived (ala Harry Potter).

 Makanya seneng juga kalo nemu teman-teman yang low maintenance. Yang entah kenapa walaupun jarang banget ketemu, jarang banget komunikasi, tapi pas ketemu langsung klop kayak perangko. Yang walaupun nggak tahu kehidupan masing-masing setelah sekian lama, bisa langsung nemuin seribu bahasan yang bisa diobrolin saat ketemu. Thank God for this kind of people. These people, I include them as best friend. Sahabat.

Dan satu lagi yang saya pelajari, ya mungkin telat si, but better late than never, teman sejati itu nggak harus sempurna. Karena diri kita juga nggak sempurna. Nggak usah merasa bersalah kalo misalnya kita sebel sama temen, annoyed, jealous, selalu comparing hidup kita dan hidup dia. Menurut saya hal itu wajar dilakukan kok, wong dia adalah salah satu orang terdekat kita kok. Kadang kita selalu menganggap hidup orang lain itu sempurna kan, apalagi kalo misalnya hidupnya dia berputar di sekeliling kita lewat segala macam social media itu. Nggak semua orang sih kayak gini, saya juga punya teman yang bener-bener cuek sama kehidupan orang, pikiran orang, just let their life flow. Ya mungkin proses pendewasaan juga sih, menerima teman kita literally apa adanya. Selama hal itu belum bisa dilakukan, ya cari cara gampang aja lak wis. Unfollow Twitter. Stop stalking blog-nya. Sampai kita menilai diri kita udah siap lagi dan udah bisa manage segala acak kadut perasaan tadi.

Apalagi ya? Jadi ngelantur banget kayak gini. Intinya, itulah yang sore ini saya pikirkan tentang pertemanan. Dan buat teman-teman yang pernah singgah di hidup saya, makasih banyak. And I miss you all. I really hope I can bring you ALL to my heart and never ever forget you, even when I only keep tiniest piece of you. *kiss*

PS. Pada akhirnya baru ngeh kalo misalnya saya nggak jadi ngejabarin kriteria si teman sejati. Hehehe, mungkin pada akhirnya saya menyadari bukan itu yang terpenting.



2 comments:

  1. Della udah lupa sama sayah kaya nyah <-----korban seleksi alam AHAHAHAHA

    ReplyDelete
  2. Dan akhirnya kita akan berjalan sendiri2 (andalan gw bgt hahaha...), selalu ada di hati, n g bs dipungkiri ada beberapa teman yang mempengaruhi hidup, sampe bs jadi seperti skrg.
    ( OSTnya graduationnya vitamin c :) )

    ReplyDelete